Selasa, 25 September 2012

Browse » Home » » Kisah Sakaratul Maut  

Kisah Sakaratul Maut


Suatu ketika Malaikat Maut diperintahkan Allah untuk mencabut nyawa Nabi Musa. Kedatangan “tamu istimewa” ini membuat muka Nabi Musa pucat pasi. Begitu Malaikat Maut hendak mencabut nyawa beliau dari ujung kaki, Nabi Musa bertanya, “Sampai hatikah engkau mencabut nyawaku dari kaki yang pernah digunakan untuk berjalan menuju Gunung Tursina ketika turun firman-Nya?”

“Bagaimana kalau dari tangan?” Musa menjawab, “Duhai utusan Allah, lupakah engkau bahwa tangan ini pernah menerima lembaran syahifah suci yang berisikan firman-Nya?”

“Bagaimana kalau dari kepala?,” pinta Malaikat Maut. “Yaa Rabbul Izzati. Malaikat-Mu hendak mencabut nyawa hamba-Mu dari kepala ini. Padahal sepanjang hidup hamba menggunakannya untuk bersujud kepada-Mu?”.

Karena tidak ada jalan lain Malaikat Maut mengambil selembar kulit jeruk yang harum baunya. “Wahai Musa, hiruplah aroma kulit jeruk ini,” perintah Malaikat Maut. Begitu aroma kulit jeruk ini terhisap, Nabi yang mulia ini pun menghembuskan nafas terakhirnya.

Menurut sebuah atsar, kematian Nabi Musa adalah kematian paling mudah di antara semua manusia. Namun sadarkah kita apa makna “mudah” dalam proses kematian beliau? Rasulullah saw. bersabda, “Kematian Nabi Musa kadar kegetirannya sama dengan penderitaan seseorang yang ditebas sebilah pedang yang sangat tajam sebanyak 300 kali”. Dalam riwayat lain disebutkan, kematian Nabi Musa itu bagaikan seekor domba dalam keadaan segar bugar lalu dicabut kulitnya dalam keadaan hidup. ‘Aisyah binti Abu Bakar mengungkapkan pula, “Ibarat pentungan besi bergerigi yang ditancapkan ke perut, lalu ditarik dengan sangat keras dengan sekuat tenaga. Tak adakah bagian yang ikut terbawa pentungan itu?”

“Sakaratul maut adalah ungkapan tentang rasa sakit yang menyerang inti jiwa dan menjalar ke seluruh bagian jiwa, sehingga tak ada satu bagian pun yang terbebas dari rasa sakit itu”.

— Abu Hamid Al Ghazali —
Jika kematian Nabi Musa demikian dahsyat dan menyakitkan, apalagi kematian kita—manusia biasa yang lebih banyak dosanya daripada kebaikannya—tampaknya akan jauh lebih menyakitkan! Semoga Allah Yang Maha Penyayang melindungi kita. Karena itu, pantas apabila Rasulullah saw. mencontohkan beberapa doa yang isinya meminta agar Allah Swt. mempermudah proses sakaratul maut kita. Salah satu di antaranya adalah ”Allâhumma innî as’aluka taubatan nashûhâ wa taubatan qablal maût wa rahmatan ’indal maût wa maghfiratan wa rahmatan ba’dal maût wal ’afwa indal hisâb … ” Artinya, ”Ya Allah, aku memohon kepada-Mu tobat nasuha dan tobat sebelum mati, ketenangan (kemudahan) ketika hendak mati (sakaratul maut), ampunan dan ketenangan setelah mati, dan ampunan ketika dihisab …”.

Dari sini kita bisa melihat bahwa doa bisa mempermudah proses dan meringankan proses sakaratul maut. Akan tetapi, doa pun bisa memperberat dan mempersulit proses sakaratul maut. Doa siapa dan bagaimana? Itulah doa dan rintihan serta air mata orang-orang yang terzalimi. Seseorang yang banyak menzalimi orang lain, biasanya akan dipersulit proses kematiannya. Kisah-kisah berikut mudah-mudahan bisa menjadi contoh sekaligus ibrah atau pelajaran bagi kita.

Ketika masih SMP, saya bertetangga dengan seorang kakek kaya raya. Di kampung kami ia termasuk salah seorang terpandang, tanahnya luas, rumahnya bagus, dan uangnya banyak. Kakek itu pun pintar bicara dan berdebat. Namun, di balik itu, menurut orangtua dan orang-orang sekampung, dia termasuk orang licik dan kejam. Entah berapa banyak orang yang tersakiti dan dijerumuskan olehnya. Kakek itu merupakan pentolan PKI yang dulu melarikan diri ke kampung kami. Dia datang sebagai buronan tentara. Akan tetapi, karena kepintaran dan kelicikannya, alih-alih ditangkap ia malah menjadi orang kaya dan berpengaruh di kampung kami. Sebagian tanah warga berhasil ia ambil alih kepemilikannya.

Pada masa tuanya, ia mengidap penyakit sesak napas akut. Setiap kali bernafas, desah napasnya begitu berat dan suara lendir di kerongkongannya jelas terdengar. Dari jarak cukup jauh, seseorang sudah bisa mendengar desah nafasnya. Hal itu terjadi bertahun-tahun lamanya. Ia sudah merobat ke mana-mana tapi tak juga sembuh. Ketika itu saya membayangkan betapa tersiksanya hidup dengan napas seperti itu. Walaupun demikian, sifatnya tetap keras, tidak mau kalah, dan seakan tidak mau bertobat.

Saat-saat menjelang ajalnya, penderitaannya pun bertambah berat. Berhari-hari lamanya Malaikat Maut seakan ”mempermainkan” orangtua ini, hingga akhirnya ia wafat dengan cara yang ”menakutkan”. Ia meronta-ronta dan berdesah berat seperti seekor binatang yang hendak disembelih, sebelum akhirnya diam lunglai karena nyawa telah lepas dari badannya.

Ada lagi seorang lelaki tua, usianya sekitar 65-70 tahun. Badannya kekar dengan muka yang kaku. Walau terlihat baik dengan tetangga, tapi bapak ini sangat mengacuhkan istri dan anak-anaknya. Ia tak segan-segan menempeleng, menendang, memaki-maki dan menyiksa istrinya. Ia seakan tak peduli dengan tangisan ibu dari anak-anaknya tersebut. Selain menyakiti secara fisik, ia pun senang sekali menyakiti secara psikologis dengan lebih mempedulikan istri mudanya daripada istri tuanya. Bapak ini pun dikenal memiliki ilmu hitam yang sewaktu-waktu dapat digunakan untuk mencelakakan orang lain.

Saat-saat menjelang kematiannya sangat mengerikan. Entah karena sakit, ia mengamuk, memukul, mengucapkan kata-kata kasar dan makian, serta melemparkan apa saja yang ada di dekatnya. Karena kewalahan, anak-anaknya menyekap dia di kamar hingga akhirnya meninggal keesokan harinya. Semoga Allah melindungi kita dari kematian semacam itu.

“Jangan menunda-nunda tanpa melakukan persiapan untuk kematian. Umur kita terlalu singkat. Jadikanlah setiap tarikan napas sebagai udara terakhir yang kita hirup. Lalu kematian akan menjemput. Kematian seseorang akan terjadi dalam keadaan di mana ia biasa melakukan sesuatu ketika hidup. Dan ketika dibangkitkan di akhirat, ia pun akan dibangkitkan dalam situasi itu juga”.
— Ibnu Qudamah Al Maqdisi —


0 komentar:

Posting Komentar